Close Menu
MedpolindoMedpolindo
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram
    MedpolindoMedpolindo
    Login
    • Nasional
    • MPR
    • DPR
    • DPD
    • Daerah
    • Peristiwa
    • Polhukam
    • Dunia
    MedpolindoMedpolindo
    • DPR
    • MPR
    • DPD
    • Disclaimer
    • Privacy Policy
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    Beranda » Keberhasilan Penyerapan Anggaran Harus Diukur dari Dampaknya bagi Warga Perbatasan
    DPR

    Keberhasilan Penyerapan Anggaran Harus Diukur dari Dampaknya bagi Warga Perbatasan

    redaksiBy redaksi16 Juli 202603 Mins Read
    Share Facebook Twitter Pinterest Copy Link LinkedIn Tumblr Email Telegram WhatsApp
    Anggota Komisi II DPR RI Deddy Yevri Sitorus/Ist
    Bagikan
    Facebook Twitter LinkedIn Copy Link

    Anggota Komisi II DPR RI Deddy Yevri Sitorus mengingatkan bahwa keberhasilan kinerja pemerintah tidak cukup diukur dari tingginya realisasi penyerapan anggaran. Menurutnya, ukuran utama yang harus menjadi perhatian adalah sejauh mana anggaran mampu menjawab persoalan masyarakat, terutama di wilayah perbatasan.

    “Kita sedang membahas anggaran. Sebenarnya saya ingin diskusi kita mengarah lebih luas daripada sekadar penyerapan anggaran. Kita seharusnya berbicara tentang KPI. Kita berbicara tentang mimpi yang berhasil diwujudkan, rencana yang kemudian menyumbang pada performa negara yang lebih baik daripada sekadar hanya berbicara anggarannya,” ujar Deddy dalam Rapat Kerja Komisi II DPR RI bersama Menteri Dalam Negeri, Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), Ketua DKPP, dan Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (16/7/2026).

    Deddy menilai, pembahasan laporan keuangan semestinya tidak berhenti pada capaian serapan anggaran yang tinggi. Pemerintah juga perlu mengevaluasi dampak kebijakan, tantangan, serta risiko yang dihadapi agar penyusunan anggaran pada tahun berikutnya menjadi lebih efektif, efisien, dan berdampak nyata.

    Dalam kesempatan itu, ia secara khusus menyoroti kondisi masyarakat di wilayah perbatasan Kalimantan Utara yang dinilainya masih menghadapi berbagai keterbatasan infrastruktur dan pelayanan dasar. Deddy menyebut, pengalihan anggaran pembangunan perbatasan untuk penanganan bencana menyebabkan sejumlah proyek strategis tertunda.

    Lebih lanjut, Deddy menggambarkan bahwa kondisi masyarakat kini tengah kesulitan memperoleh kebutuhan pokok, bahan bakar minyak, hingga pasokan listrik. Menurutnya, persoalan tersebut harus menjadi perhatian lintas kementerian, bukan hanya menjadi tanggung jawab Kementerian Dalam Negeri maupun BNPP.

    “Hari-hari ini kondisinya semakin mengerikan. Karena tidak adanya akses jalan, masyarakat tidak bisa mendapatkan sembako, mendapatkan BBM juga tidak bisa. Listrik rata-rata tinggal empat jam per hari. Satu sampai dua bulan lagi mungkin sudah tidak ada listrik sama sekali di daerah perbatasan Kalimantan Utara,” ungkap Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini.

    Maka dari itu, ia meminta Kementerian Dalam Negeri bersama BNPP mengoordinasikan kementerian terkait, seperti Kementerian Pekerjaan Umum, Bappenas, dan Kementerian Keuangan, agar pembangunan kawasan perbatasan dilakukan secara berkelanjutan. Terlebih, akses jalan menjadi kebutuhan mendesak karena berdampak langsung terhadap pelayanan kesehatan, pendidikan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

    “Ini kita sedang berbicara tentang manusia. Saya berharap Kementerian PUPR, Bappenas, dan Kementerian Keuangan betul-betul mencurahkan sedikit perhatian kepada rakyat kita di perbatasan sana,” katanya.

    Deddy juga mengaku menerima langsung keluhan masyarakat saat melakukan kunjungan ke daerah pemilihannya. Bahkan, katanya, sebagian warga mulai mempertanyakan kehadiran negara karena merasa pembangunan di wilayah perbatasan berjalan sangat lambat.

    “Pak, kami cinta negara ini. Tapi kalau kami terus ditelantarkan, lebih baik kami pindah saja ke Malaysia. Buat apa kami terus begini kalau tidak dipedulikan?” tutur Deddy menirukan keluhan warga.

    Oleh karena itu, ia meminta persoalan tersebut menjadi perhatian pemerintah pusat hingga Presiden. Menurutnya, masyarakat yang tinggal di kawasan perbatasan merupakan garda terdepan yang menjaga kedaulatan wilayah Indonesia sehingga sudah semestinya memperoleh pelayanan dan pembangunan yang layak.

    “Saya mohon perhatian ini agar disampaikan kepada Bapak Presiden. Karena ini menyangkut manusia-manusia di perbatasan yang selama ini menjaga integritas wilayah kita,” pungkasnya. 

    DPR RI Indonesia
    Share. Facebook Twitter Copy Link

    Berita Terkait

    Fenomena SDN Sepi Peminat, Fikri Faqih Desak Pengecualian Regrouping di Daerah 3T

    22 Juli 2026

    Banyak Putusan Inkrah MA Tidak Bisa Dieksekusi, RUU Perampasan Aset Didorong Perkuat Fiskal Negara

    21 Juli 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    BERITA TERKINI

    Fenomena SDN Sepi Peminat, Fikri Faqih Desak Pengecualian Regrouping di Daerah 3T

    22 Juli 20260

    Banyak Putusan Inkrah MA Tidak Bisa Dieksekusi, RUU Perampasan Aset Didorong Perkuat Fiskal Negara

    21 Juli 20260

    Bahas RUU Perampasan Aset, Hinca Panjaitan Soroti Dugaan Penyimpangan Bisnis di BUMN

    21 Juli 20260

    Tarif Lepas Status WNI Naik, Legislator: Harusnya Fokus Kenapa Banyak Warga yang Ingin Lepas Kewarganegaraan

    21 Juli 20260

    RUU Kehutanan Siap Dibawa ke Paripurna Jadi Usul Inisiatif DPR, Sempurnakan Delapan Pembahasan

    20 Juli 20260
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Privacy Policy
    • Disclaimer
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    © 2026 Medpolindo. Designed by Aco.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?