Close Menu
MedpolindoMedpolindo
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram
    MedpolindoMedpolindo
    Login
    • Nasional
    • MPR
    • DPR
    • DPD
    • Daerah
    • Peristiwa
    • Polhukam
    • Dunia
    MedpolindoMedpolindo
    • DPR
    • MPR
    • DPD
    • Disclaimer
    • Privacy Policy
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    Beranda » Putra Nababan: Negara Harus Yakin pada Masa Depan Industri Animasi Tanah Air
    DPR

    Putra Nababan: Negara Harus Yakin pada Masa Depan Industri Animasi Tanah Air

    redaksiBy redaksi8 Juni 202623 Mins Read
    Share Facebook Twitter Pinterest Copy Link LinkedIn Tumblr Email Telegram WhatsApp
    Anggota Komisi VII DPR RI Putra Nababan dalam Kunjungan Kerja Panitia Kerja (Panja) Kreativitas dan Distribusi Film Nasional Komisi VII DPR RI di Kota Cimahi, Jawa Barat, Jumat (5/6/2026)/Ist
    Bagikan
    Facebook Twitter LinkedIn Copy Link

    Keseriusan negara dalam mendukung industri animasi nasional dinilai perlu diwujudkan melalui keberpihakan yang lebih konkret, mulai dari pembiayaan hingga penguatan ekosistem kreatif. Dukungan tersebut dinilai penting agar industri animasi Indonesia tidak hanya tumbuh sebagai pelaksana produksi, tetapi juga berkembang sebagai pemilik karya dan kekayaan intelektual (intellectual property/IP) yang berdaya saing global.

    Anggota Komisi VII DPR RI Putra Nababan menilai, Indonesia memiliki talenta animasi yang mampu bersaing di tingkat internasional, tetapi belum sepenuhnya mendapat dukungan yang mencerminkan keyakinan terhadap masa depan industri tersebut. Hal itu disampaikannya usai mendengar pemaparan Ayena Studio dalam Kunjungan Kerja Panitia Kerja (Panja) Kreativitas dan Distribusi Film Nasional Komisi VII DPR RI di Kota Cimahi, Jawa Barat, Jumat (5/6/2026).

    Dalam pertemuan tersebut, Ayena Studio memaparkan sejumlah tantangan yang dihadapi industri animasi nasional, mulai dari akses pembiayaan, pengembangan sumber daya manusia (SDM), hingga penguatan IP lokal. Menurut Putra, berbagai persoalan tersebut membutuhkan dukungan negara yang lebih konkret agar industri animasi dapat berkembang lebih kompetitif.

    Keseriusan negara dalam mendukung industri animasi nasional dinilai perlu diwujudkan melalui keberpihakan yang lebih konkret, mulai dari pembiayaan hingga penguatan ekosistem kreatif. Dukungan tersebut dinilai penting agar industri animasi Indonesia tidak hanya tumbuh sebagai pelaksana produksi, tetapi juga berkembang sebagai pemilik karya dan kekayaan intelektual (intellectual property/IP) yang berdaya saing global. 

    Putra mengapresiasi semangat para animator lokal yang dinilai mampu membangun industri dari bawah hingga mulai terlibat dalam proyek-proyek internasional. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa talenta kreatif Indonesia memiliki kemampuan untuk bersaing di level global apabila memperoleh dukungan ekosistem yang memadai.


    “Saya sangat mengapresiasi dan juga senang sekali dengan semangat yang ditunjukkan. Dari mulai betul-betul merangkak dari bawah sampai sekarang berada di kancah internasional,” ujar Politisi Fraksi PDI-Perjuangan tersebut.

    Dalam pemaparannya kepada Panja, Ayena Studio menjelaskan keterlibatan perusahaan dalam sejumlah proyek animasi nasional maupun internasional, termasuk kontribusi pada film animasi Indonesia seperti “Garuda di Dadaku” serta kerja sama lintas negara. Ayena juga tengah menjalankan co-production dengan rumah produksi asal Rumania untuk proyek animasi “Gladiator” dengan sebagian besar proses pengerjaan dilakukan di Indonesia. Bagi Putra, capaian tersebut menjadi bukti bahwa industri animasi nasional memiliki masa depan yang menjanjikan.

    Namun demikian, Putra menilai keyakinan terhadap masa depan industri animasi belum sepenuhnya tercermin dalam kebijakan maupun dukungan pembiayaan. Hal itu terlihat dari masih adanya keraguan lembaga keuangan dalam menerima IP sebagai jaminan pembiayaan, sehingga banyak studio animasi kesulitan memperoleh akses modal untuk berkembang.

    “Kita di Komisi VII DPR untuk memastikan bahwa bank-bank, khususnya Himbara dan bank daerah, tidak ragu-ragu lagi untuk menjadikan IP sebagai collateral,” tegasnya.

    Ia membandingkan perkembangan industri kreatif Indonesia dengan Korea Selatan dan Jepang yang dinilai berhasil membangun kekuatan budaya populer karena konsistensi dukungan negara terhadap sektor unggulan.

    “Saya melihat negara nggak yakin sama animasi ini. Ngomongnya yakin, tapi ngasih duit enggak. Orang yakin kalau uangnya keluar,” ujarnya.

    Menurut Putra, semangat kolaborasi yang telah dibangun para animator Indonesia perlu diimbangi dengan keberpihakan negara agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain utama dalam industri animasi global.

    DPR RI Indonesia
    Share. Facebook Twitter Copy Link

    Berita Terkait

    Tutup Celah Travel Bodong, DPR Pastikan UU PIHU Demi Lindungi Jemaah Umrah Mandiri

    28 Juli 2026

    RUU Perampasan Aset Masuk Pembahasan Batang Tubuh, Selaraskan Hukum Pidana Nasional

    28 Juli 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    BERITA TERKINI

    Tutup Celah Travel Bodong, DPR Pastikan UU PIHU Demi Lindungi Jemaah Umrah Mandiri

    28 Juli 20260

    RUU Perampasan Aset Masuk Pembahasan Batang Tubuh, Selaraskan Hukum Pidana Nasional

    28 Juli 20260

    Waka DPR Sari Yuliati Desak Sanksi Berat jika Guru ASN Tanjungbalai Terbukti Cabuli Anak

    28 Juli 20260

    Yan Permenas: WNA Pelaku Kejahatan Harus Diproses Pidana, Bukan Sekadar Deportasi

    27 Juli 20260

    Hormati Undur Diri Perry Warjiyo, Komisi XI Siap Jalankan Fit and Proper Test Secara Objektif

    27 Juli 20260
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Privacy Policy
    • Disclaimer
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    © 2026 Medpolindo. Designed by Aco.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?