Close Menu
MedpolindoMedpolindo
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram
    MedpolindoMedpolindo
    Login
    • Nasional
    • MPR
    • DPR
    • DPD
    • Daerah
    • Peristiwa
    • Polhukam
    • Dunia
    MedpolindoMedpolindo
    • DPR
    • MPR
    • DPD
    • Disclaimer
    • Privacy Policy
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    Beranda » Rumitnya Perizinan dan Tingginya Biaya Energi Penghambat Daya Saing Industri Tekstil
    DPR

    Rumitnya Perizinan dan Tingginya Biaya Energi Penghambat Daya Saing Industri Tekstil

    redaksiBy redaksi23 Mei 202602 Mins Read
    Share Facebook Twitter Pinterest Copy Link LinkedIn Tumblr Email Telegram WhatsApp
    Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty dalam Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI ke Akademi Komunitas Industri Tekstil dan Produk Tekstil Surakarta, Jawa Tengah, Jumat (22/5/2026)/Ist
    Bagikan
    Facebook Twitter LinkedIn Copy Link

    Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty menegaskan bahwa persoalan daya saing industri tekstil nasional tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan tenaga kerja terampil, tetapi juga menyangkut iklim usaha yang masih menghadapi berbagai hambatan. 

    Hal itu disampaikan Evita usai mengikuti Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI ke Akademi Komunitas Industri Tekstil dan Produk Tekstil Surakarta, Jawa Tengah, Jumat (22/5/2026).

    Dalam kunjungan tersebut, Komisi VII DPR RI turut menerima berbagai masukan dari pelaku industri tekstil. Evita mengungkapkan, keluhan yang muncul masih berkisar pada persoalan klasik, mulai dari perizinan yang dinilai belum sederhana, proses AMDAL yang memakan waktu, hingga tingginya biaya energi dan belum meratanya pasokan gas bagi industri.

    “Dari industri sendiri kita dengar banyak harapan. Tantangannya masih sama. Ke mana pun kita pergi yang berkaitan dengan industri, keluhannya itu-itu saja, perizinan kita ribet,” ujar Evita kepada medpolindo.com.

    Evita menilai, proses perizinan yang panjang dan tidak efisien dapat menghambat investasi. Menurutnya, sekalipun sistem perizinan telah diarahkan melalui mekanisme terintegrasi, pelaku usaha masih kerap menghadapi kenyataan bahwa proses di lapangan tetap harus melewati banyak pintu.

    “Kalau memang ribet seperti itu dan memakan waktu yang panjang, investor kita lari. Ini menjadi tantangan bagi kita untuk memperbaiki hal-hal tersebut,” tegas Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini.

    Selain perizinan, Evita juga menyoroti persoalan energi yang masih menjadi beban bagi industri tekstil. Ia menyebut biaya listrik dan harga gas yang tinggi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi daya saing industri. Bahkan, menurutnya, terdapat keluhan mengenai perbedaan harga gas antara perusahaan yang berada di kawasan industri dan di luar kawasan industri.

    “Masalahnya itu-itu saja, (mulai dari) listrik tinggi, harga gas tinggi, (hingga) suplai gas belum merata. Perusahaan yang berada di kawasan industri kok membayar gas lebih mahal daripada perusahaan yang ada di luar kawasan industri,” ungkapnya.

    Evita juga menekankan pentingnya sinkronisasi regulasi antara pemerintah pusat dan daerah. Menurutnya, perbedaan aturan di tingkat pusat dan daerah kerap menimbulkan kebingungan bagi pelaku industri, sehingga perlu dilakukan harmonisasi kebijakan agar industri dapat bergerak lebih pasti.

    “Pusat peraturannya A, (tetapi) di daerah peraturannya B. Teman-teman di industri bingung. Seharusnya dilakukan sinkronisasi dan harmonisasi aturan yang ada di pusat dan daerah,” jelasnya.

    Evita memastikan, berbagai temuan dalam kunjungan kerja tersebut akan menjadi bahan pembahasan Komisi VII DPR RI bersama pemerintah, khususnya Kementerian Perindustrian. Ia berharap pembenahan pendidikan vokasi, perbaikan regulasi, dan penguatan iklim usaha dapat berjalan beriringan untuk meningkatkan daya saing industri tekstil nasional. 

    DPR RI Indonesia
    Share. Facebook Twitter Copy Link

    Berita Terkait

    Penguatan RUU Satu Data Demi Pembangunan yang Tepat Sasaran

    24 Mei 2026

    Jelang Puncak Haji, Timwas DPR Minta Semua Pihak Waspadai Situasi Tak Terduga di Armuzna

    24 Mei 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    BERITA TERKINI

    Penguatan RUU Satu Data Demi Pembangunan yang Tepat Sasaran

    24 Mei 20260

    Jelang Puncak Haji, Timwas DPR Minta Semua Pihak Waspadai Situasi Tak Terduga di Armuzna

    24 Mei 20260

    Soroti Kerawanan Armuzna, Timwas Haji Minta Mitigasi dan Koordinasi Petugas Diperkuat

    24 Mei 20260

    Libatkan Masyarakat Lokal, Komisi VII Tekankan Pariwisata Berkelanjutan di Candi Prambanan

    23 Mei 20260

    Cegah Berulangnya Musibah, Perlu Peningkatan Teknologi CCTV di Kabin Masinis KRL

    23 Mei 20260
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Privacy Policy
    • Disclaimer
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    © 2026 Medpolindo. Designed by Aco.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?