Close Menu
MedpolindoMedpolindo
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram
    MedpolindoMedpolindo
    Login
    • Nasional
    • MPR
    • DPR
    • DPD
    • Daerah
    • Peristiwa
    • Polhukam
    • Dunia
    MedpolindoMedpolindo
    • DPR
    • MPR
    • DPD
    • Disclaimer
    • Privacy Policy
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    Beranda » Junaidi Auly: Butuh Transfer Teknologi Berkelanjutan untuk Kembangkan Industri Baterai Nasional
    DPR

    Junaidi Auly: Butuh Transfer Teknologi Berkelanjutan untuk Kembangkan Industri Baterai Nasional

    redaksiBy redaksi3 Februari 202603 Mins Read
    Share Facebook Twitter Pinterest Copy Link LinkedIn Tumblr Email Telegram WhatsApp
    Anggota Komisi XII DPR RI, Ahmad Junaidi Auly/Ist
    Bagikan
    Facebook Twitter LinkedIn Copy Link

    Anggota Komisi XII DPR RI, Ahmad Junaidi Auly, menegaskan bahwa komitmen transfer teknologi yang selaras dengan prinsip keberlanjutan lingkungan menjadi kunci utama dalam pengembangan industri baterai, sistem penyimpanan energi (Energy Storage System/ESS), dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) nasional. Hal tersebut disampaikannya dalam rapat dengar pendapat umum Komisi XII DPR RI bersama PT Industri Baterai Indonesia (Indonesia Battery Corporation/IBC) di Nusantara I, Senayan, Jakarta, Senin (2/2/2026).


    Menurut Junaidi, pembangunan pabrik dan realisasi investasi memang merupakan fondasi penting dalam hilirisasi industri baterai. Namun, hal tersebut belum cukup untuk menjamin keberlanjutan industri dalam jangka panjang. Keberhasilan hilirisasi, kata dia, harus diukur dari kemampuan Indonesia membangun dan menguasai kapabilitas teknologi domestik yang berjalan beriringan dengan pengelolaan dampak lingkungan secara bertanggung jawab.


    Ia menekankan pentingnya penguasaan teknologi secara menyeluruh, mulai dari rekayasa material, pengembangan Cathode Active Material (CAM), produksi sel baterai, hingga desain dan integrasi Battery Management System (BMS) serta ESS yang efisien dan ramah lingkungan.


    “IBC harus diposisikan sebagai simpul pembelajaran dan pengembangan teknologi, sekaligus pengarusutamaan standar keberlanjutan industri nasional, bukan sekadar pusat manufaktur. Setiap kemitraan strategis harus memastikan keterlibatan aktif SDM dan lembaga riset nasional dalam proses desain, produksi, dan inovasi, serta penerapan praktik industri hijau,” ujar Junaidi.


    Lebih lanjut, Junaidi mendorong agar seluruh skema kerja sama dan pembiayaan yang difasilitasi melalui ekosistem BPI Danantara dilengkapi dengan klausul penguatan kapasitas nasional dan komitmen lingkungan. Klausul tersebut antara lain mencakup kewajiban pembentukan pusat riset dan pengembangan di dalam negeri, program sertifikasi dan pelatihan tenaga kerja berteknologi tinggi, penerapan standar emisi dan efisiensi energi, serta kolaborasi berkelanjutan dengan perguruan tinggi dan lembaga riset nasional.


    Dalam konteks transisi energi, Junaidi berharap IBC dapat berperan aktif dalam pengembangan standar nasional baterai dan ESS yang sesuai dengan karakteristik iklim serta kebutuhan pasar domestik. Standar tersebut juga harus memenuhi prinsip keselamatan, efisiensi sumber daya, dan keberlanjutan lingkungan. Menurutnya, langkah ini strategis untuk mendorong lokalisasi rantai pasok bernilai tambah tinggi, termasuk pengembangan komponen BMS, integrasi inverter, dan sistem keselamatan energi berbasis standar hijau.


    Selain itu, Junaidi menekankan bahwa integrasi ekonomi sirkular dan teknologi daur ulang baterai harus menjadi bagian dari agenda transfer teknologi jangka panjang. Upaya tersebut dinilai penting untuk memperkuat ketahanan pasokan material kritis, menekan dampak lingkungan, serta membangun kedaulatan industri energi nasional yang berdaya saing global.


    Dengan sinergi antara IBC sebagai pelaksana industrial dan BPI Danantara sebagai arsitek investasi strategis, Junaidi Auly berharap Indonesia dapat bertransformasi dari sekadar basis manufaktur menjadi pusat pengembangan teknologi dan praktik industri berkelanjutan dalam rantai nilai global baterai dan energi terbarukan.

    DPR RI Indonesia
    Share. Facebook Twitter Copy Link

    Berita Terkait

    Perbatasan RI–Malaysia di Kaltara Dinilai Rawan, Umbu Kabunang: Garis Terdepan Harus Jadi Prioritas

    5 Februari 2026

    Edy Wuryanto Minta Penonaktifan PBI BPJS Jangan Putus Layanan Pasien Kronis

    5 Februari 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    BERITA TERKINI

    Perbatasan RI–Malaysia di Kaltara Dinilai Rawan, Umbu Kabunang: Garis Terdepan Harus Jadi Prioritas

    5 Februari 20260

    Edy Wuryanto Minta Penonaktifan PBI BPJS Jangan Putus Layanan Pasien Kronis

    5 Februari 20260

    Ketergantungan Impor Masih Tinggi, Komisi VII Dorong Kemandirian Industri Susu Nasional

    5 Februari 20260

    Kebersihan dan Keselamatan Harus Jadi Fondasi Pariwisata Nasional

    4 Februari 20260

    Komisi VIII Minta BPKH Jelaskan Tak Tercapainya Target 2025, Soroti Nilai Manfaat hingga Pengawasan Anak Usaha

    4 Februari 20260
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Privacy Policy
    • Disclaimer
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    © 2026 Medpolindo. Designed by Aco.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?