Close Menu
MedpolindoMedpolindo
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram
    MedpolindoMedpolindo
    Login
    • Nasional
    • MPR
    • DPR
    • DPD
    • Daerah
    • Peristiwa
    • Polhukam
    • Dunia
    MedpolindoMedpolindo
    • DPR
    • MPR
    • DPD
    • Disclaimer
    • Privacy Policy
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    Beranda » Pulung Agustanto Tekankan Pentingnya APH Pahami Budaya Lokal Tangani Konflik Saat Pilkada
    DPR

    Pulung Agustanto Tekankan Pentingnya APH Pahami Budaya Lokal Tangani Konflik Saat Pilkada

    redaksiBy redaksi23 November 202462 Mins Read
    Share Facebook Twitter Pinterest Copy Link LinkedIn Tumblr Email Telegram WhatsApp
    Anggota Komisi III DPR RI Pulung Agustanto/Ist
    Bagikan
    Facebook Twitter LinkedIn Copy Link

    Anggota Komisi III DPR RI Pulung Agustanto mengingatkan aparat penegak hukum (APH) untuk memahami karakteristik budaya lokal guna menghadapi konflik pilkada secara bijaksana. Hal ini disampaikannya usai mengikuti agenda Kunjungan Kerja Spesifik Komisi III DPR RI ke Markas Polda Jawa Timur, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, Jumat (22/11/2024).

    Peringatan ini, ia sampaikan, untuk menjadi pengingat pentingnya pendekatan yang lebih inklusif, baik dari sisi keamanan maupun budaya, dalam menyelenggarakan pilkada yang bebas konflik.

    Apalagi, sebutnya, wilayah Jawa Timur merupakan provinsi yang memiliki tingkat partisipasi politik aktif dan tinggi sekaligus rentan terjadi konflik selama tahapan pilkada berlangsung. Di mana, hal ini selaras dengan pernyataan Kapolda Jatim Imam Sugianto yang menyampaikan bahwa ada enam daerah di Jawa Timur yang rawan terjadi konflik pilkada

    Enam daerah tersebut meliputi kabupaten yang ada di Pulau Madura (Sampang, Sumenep, Bangkalan, Pamekasan), serta Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Lumajang. Pulung pun menyoroti insiden yang pernah terjadi di Kabupaten Sampang, Madura.

    Akibat isu personal yang disertai dengan perbedaan pilihan politik, memicu konflik fisik yang melibatkan para pendukung calon kepala daerah. Ia menyampaikan bahwa budaya Madura, memiliki tradisi “carok”, yang mana merupakan tradisi masyarakat Madura untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan harga diri dan kehormatan.

    Tradisi ini dilakukan dengan cara bertarung menggunakan senjata tajam seperti celurit. Tentu, terangnya, menjadi tantangan tersendiri yang membutuhkan pendekatan khusus untuk mencegah terjadinya konflik horizontal yang tajam jelang pilkada.

    “Madura itu sangat spesial, baik dari sisi budaya maupun masyarakatnya. Konflik yang terjadi, seperti di Sampang, menunjukkan betapa pentingnya memahami budaya lokal agar penanganan konflik lebih efektif,” ujar Politisi Fraksi PDI-Perjuangan. 

    Aparat Penegak Hukum (APH) DPR RI Indonesia
    Share. Facebook Twitter Copy Link

    Berita Terkait

    Hari Santri 2026, Puan Dorong Pesantren Terlibat Aktif dalam Pembangunan Nasional

    23 Oktober 2026

    Komisi III: Penegakan Hukum Era Presiden Prabowo Sudah Berada di Jalur yang Tepat

    23 Oktober 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    BERITA TERKINI

    Hari Santri 2026, Puan Dorong Pesantren Terlibat Aktif dalam Pembangunan Nasional

    23 Oktober 20260

    Komisi III: Penegakan Hukum Era Presiden Prabowo Sudah Berada di Jalur yang Tepat

    23 Oktober 20260

    Putusan MK Momentum Pembenahan Sistem Kebencanaan Nasional

    23 Oktober 20260

    Saadiah Uluputty Ingatkan Risiko Hukum Sawitisasi Pascakarhutla

    22 Oktober 20260

    Perundungan Makin Parah, Puan Dorong Evaluasi Kebijakan Perlindungan Anak

    22 Oktober 20260
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Privacy Policy
    • Disclaimer
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    © 2026 Medpolindo. Designed by Aco.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?